KOMPETENSI SISWA SEBAGAI INDIKATOR KEBERHASILAN TEORI BELAJAR PERILAKU

oleh Supratman Zakir, M. Pd., M. Kom

I. Pendahuluan

Era industri mulai digantikan oleh era informasi. Kehidupan manusia saat ini terkepung diantara kedua era tersebut. Kebesaran industri sedang diganti era informasi. Berada diantara gelombang kedua era tersebut, sering kali mengaburkan akurasi predeksi masa depan yang menimbulkan salah arah pendidikan. Akibatnya, ialah irelevansi pendidikan yang menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan sehingga diperlukan pendidikan ulang untuk memperoleh kompetensi baru (Ornstein & Hunkins, 1988:323). Selain itu, era industri hiburan dan rekreasi muncul, padahal anak-anak Indonesia belum berkembang potensinya, misalnya belum memiliki tradisi belajar mandiri yang kuat, bisa berakibat fatal kepada Indonesia.

Gejala lainnya ialah globalisasi modal dan peningkatan mobilitas tenaga kerja yang mengakibatkan tingginya kontak sosio cultural antar bangsa. Gejala tersebut menunut tingginya kualitas manusia Indonesia, yang bukan hanya terkait dengan beberapa kompetensi saja, tetapi dengan kemampuan holistic seperti berpikir, berkomunikasi, belajar mandiri dan berkelanjutan, proaktif, bekerja dalam tim (Kohonen, et. al, 2001). Ini berarti perlunya strategi jitu dengan pendekatan yang mengoptimalkan pengembangan potensi siswa agar kelak mampu menjawab tantang hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan masa depan.

II. Kompetensi Siswa

Kompetensi adalah kemampuan yang harus dikuasai seseorang. Becker (1077) dan Gordon (1988) mengemukakan bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, sikap dan minat.

Dalam dokumen kurikulum (Boediono, 2000:4) mengemukakan :

“Dalam penyusunan ini, kemampuan dasar diartikan sebagai uraian kemampuan atas bahan dan lingkup ajar secara maju dan berkelanjutan seiring dengan perjalanan siswa untuk menjadi mahir dalam bahan dan lingkup ajar yang bersangkutan. Bahan ajar itu sendiri dapat berupa : lahan ajar, gugus isi, proses, dan pengertian konsep.”

Dokumen tersebut masih menggunakan istilah kemampuan dasar. Dalam dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterbitkan bulan Agustus 2001, Balitbang mengganti istilah kemampuan dasar dengan kompetensi. Dalam dokumen terakhir ini (Balitbang, 2001:12) kompetensi dirumuskan sebagai berikut :”kompetensi dasar merupakan uraian kemampuan yang memadai atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap mengenai materi pokok. Kemampuan itu harus dikembangkan secara maju dan berkelanjutan seiring dengan perkembangan siswa”. Selanjutnya dikemukakan ” dalam kurikulum berbasis kompetensi, metode, penilaian, sarana dan alokasi waktu yang digunakan tidak dicantumkan agar guru dapat mengembangkan kurikulum secara optimal berdasarkan kompetensi yang harus diicapai dan disesuaikan dengan kondisi setempat.” (Balitbang, 2001:12)

Dalam makalah ini, kompetensi diartikan sebagai kemampuan yang harus dikuasai seorang peserta didik. Dalam pengertian ini berbagai definisi telah dikemukakan orang. Pengertian di atas dapat dikatakan sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Wolf(1995), Debling(1995), Kupper dan Palthe. Wolf(1995:40) mengatakan bahwa Debling (1995:80) mengatakan “competence pertains to the ability to perform the activities within a function or an occupational area to the level of performance expected in employment”. Sedangkan Kupper dan Palthe mengatakan “competencies as the ability of a student/worker enabling him to accomplish tasks adequaletym to find solutions and to realize them in work situations. Lebih lanjut kedua orang ini mengatakan “these qualifications should be expressed in terms of knowledge, skills, and attitude”.

Pada saat sekarang, Pengembangan kompetensi tidak dapat dilepaskan dari standar. Jika pada masa awal kelahiran, pendekatan kompetensi dikembangkan secara lokal berdasarkan tuntutan yang teridentifikasi dari apa yang berkembang dalam masyarakat dan kompetensi tidak dikaitkan dengan standar.

Menurut Tucker dan Coding (1998) standar dirumuskan sebagai pernyataan menegnai kualitas yang harus dikuasai dan dapat dilakukan siswa dalam sustu pelajaran, yang ditentukan sejak awal, disetujui oleh para akhli pendidikan dan masysrakat, terukur, dan digunakan untuk mengembangkan materi, proses belajar serta evaluasi hasil belajar.

III. Indikator Behaviorisme dalam Kompetensi Siswa

Berlandaskan teori “Stimulus-Respon” (S-R) Behavioristik, terutama dari Skinner dan Torndike. Teori ini memandang tingkah laku manusia terurai menjadi beberapa komponen yang terpisah sehingga pengajarannya kepada siswa dapat dilakukan secara terpisah satu persatu. Agar berhasil, poembelajaran disusun menjadi beberapa tingkah laku. Responsiswa terhadap pembelajarn itu dikuatkan (Reinforced), diuji coba, dan diulang-ulang melalui latihan agar menjadi kompetensi. Untuk itu pelajaran yang terpusat pada guru disusun agar siswa menguasai kompetensi dan nilai-nilai cultural dasar melalui strategi pendidikan yang berbasis kompetensi. Stategi ini didasarkan pada filosofi logical positivism yang memandang pengetahuan dapat dipecah-pecah agar mudah dianalisis dan diajarkan melalui pendekatan transmisi.

Berlandasakan teori perkembangan kognitif oleh Piaget dan Kohlberg yang memandang manusia memiliki tujuan, aktoir yang aktif memproses pengetahuan sehingga ia mampu mengorganisir tumpukan pengetahuan atau informasi. Pendidikan merupakan proses negosiasi antara kurikulum dan siswa yang merekonstruksi pengetahuan mealui dialog. Setiap individu dipandang seorang yang rasional. Karena itu, ia harus dilihat sebagai orang mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Menurut persfektif ini, guru dan siswa merupakan partner yang berinteraksi sehingga pengertahuan yang dimiliki seseorang terbuka untuk didiskusikan. Sehingga, dengan demikian siswa dapat merekonstruksi pengetahuannya melalui pembelajaran interaktif.

IV. Kesimpulan

Pendekatan kompetensi berakar pada teori belajar behaviopristik. Pembelajaran mulai ketika rangsangan (stimuli) dan penguatan (reinforment) menimbulkan reaksi organisme. Oleh proses S-R ini dan sistm motivasi yang kompleks, ranah kognitif, psikomotor, dan afektif, berkembang. Jadi, semua pembelajaran, menurut teori ini, mulai ketika siswa memperoleh rangsangan yang ditimbulkan.

Dengan perkataan lain, karakteristik utama pendekatan kompetensi adalah adanya pengetahuan dan kompetensi minimal yang harus dikuasai siswa. Karena itu, kompetensi terfokus pada pengembangan dan evaluasi poencapaian kompetensi siswa. Dengan demikian, tujuan pembelajaran dan pengukuran semua kegiatan belajar terpusat pada upaya penguasaan kompetensi yang telah diperolehnya berdasarkan waktu dan program yang telah diselesaikan. Sasarannya adalah agar setiap siswa bertanggung jawab terhadap prestasinya masing-masing. Harus ada kepastian bahwa setiap siswa menguasai kompetensi minimal yang direncanakan. Artinya, prestasi tiap siswa tidak terkait dengan prestasi kelompok atau kelas, tetapi pada prestasi masing-masing terhadap objek tertentu.

DAFTAR BACAAN

Ansyar, M, (2001), Kurikulum Menyonsong Otonomi Pendidikan di Era Globalisasi : Peluang, tantangan, dan Arah“, Foruim Pendidikan, No. 2 (26), Juni 2001 : 103-112.

Dahar, Ratna Wilis, Teori-teori  Belajar, Depdikbud berkerjasama dengan Dirjend Perguruan Tinggi, PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1989.

Gredler E. Bell Margaret, Belajar dan Membelajarkan, Terjemahan Munandir, CV, Rajawali, Jakarta, 1991

Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar (Menggagas Paradigma Baru Pendidikan), Paramadina, Jakarta, 2001

Snelbecker, Glenn. E, Learning Theory, Intructional Theory, and Psycoeducational Design,  McGraw-Hill Book Company, United State of America, 1974

Sumber : http://semangatbelajar.com/tag/belajar-mandiri/

One response to this post.

  1. Posted by mila on 21 Oktober 2010 at 11:52 am

    Insya Allah klo jd tak copy ya… Mksih…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: