Inovasi Pembelajaran Sains

MODEL PEMBELAJARAN

(PENCAPAIAN KONSEP DAN BERPIKIR INDUKTIF)

DISUSUN OLEH :

R I D W A N

MUTHMAINNAH KAMASE

W A P S I T A L I K I

PENDAHULUAN

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992). Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.” Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.

Joyce & Weil (1992) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk mernbentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efesien untuk mencapai tujuan pendidikan.

Ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, teori-¬teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori-teori lain (Joyce & Weil, 1992), Lebih lanjut Joyce & Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran; 1. model interaksi sosial, 2. model pemrosesan informasi, 3. model personal (personal models), dan 4. model modifikasi tingkah laku (behavioral).

Model pemrosesan informasi ditekankan pada pengambilan, penguasaan, dan pemrosesan informasi. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.

Model ini didasari oleh teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan peserta didik memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual. Teori pemrosesan informasi/kognitif dipelopori oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi-kondisi eksternal (rangsangan dari lingkungan). Interaksi antar keduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: (1) informasi verbal, (2) kecakapan intelektual, (3) strategi kognitif, (4) sikap, dan (5) kecakapan motorik.

Ada beberapa model yang termasuk ke dalam pendekatan pembelajaran pemrosesan informasi, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Model Perolehan Konsep, tokohnya adalah Jerome Brunner.

2. Model Berpikir Induktif, tokohnya adalah Hilda Taba,

PEMBAHASAN

  1. Pencapaian Konsep
    1. Pengertian Model Pencapaian Konsep

      Pembelajaran model pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar bersifat induktif didefinisikan untuk membantu siswa dari semua usia dalam memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari dari melatih menguji hipotesis. Model tersebut pertama kali diciptakan oleh Joyce dan Weil (dalam Gunter, Este, dan Schwab, 1990: 1972) yang berpijak pada karya Bruner, Goodnow, dan Austin. Model pencapaian konsep bermanfaat untuk memberikan pengalaman metode sains kepada para siswa dan secara khusus menguji hipotesis.

      Ada dua peran pokok guru dalam pembelajaran model pencapaian konsep yang perlu diperhatikan, adalah :

      a. Menciptakan suatu lingkungan sedemikian hingga siswa merasa bebas

      untuk berpikir dan menduga tanpa rasa takut dari kritikan atau ejekan.
      b. Menjelaskan dan mengilustrasikan bagaimana model pencapaian konsep itu

      seharusnya berlangsung, membimbing siswa dalam proses itu, membantu

      siswa menyatakan dan menganalisis hipotesis, dan mengartikulasi pemikiran-pemikiran mereka.

      Dalam membimbing aktifitas itu tiga cara penting yang dapat dilakukan oleh guru.
      • Pertama guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam

      bentuk hipotesis, bukan dalam bentuk observasi.

      • Kedua guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah

      suatu hipotesis diterima atau tidak.

      • Ketiga guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa (Why) mereka

      menerima atau menolak suatu hipotesis.

2. Tujuan-tujuan Penggunaan Model Pencapaian Konsep


Penerapan pembelajaran model konsep mengandung dua tujuan utama yaitu :
1. Tujuan Isi

Tujuan isi model konsep menurut Eggen dan Kauchak (1998) bahwa, lebig efektif untuk memperkaya suatu konsep dari pada belajar pemula (initial learning). Dan juga akan efektif dalam membantu siswa memahami hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang terkait erat dan digunakan dalam bentuk review. Dengan kata lain, penggunaan model ini akan lebih efektif jika siswa sudah memiliki pengalaman tentang konsep yang akan dipelajari itu. Bukan siswa yang benar-benar baru mempelajari konsep tersebut.

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam menerapkan model pencapaian konsep berkaitan dengan tujuan isi tersebut, yaitu :
1. Model pencapaian konsep didesain khusus untuk mengajarkan konsep secara eksklusif. Jadi berfokus semata-mata pada pembelajaran konsep.
2. Siswa yang diajari suatu konsep dengan menggunakan model pencapaian konsep harus memiliki latar belakang pengetahuan tentang konsep tersebut

.

2. Tujuan pengembangan berpikir keritis siswa

Model pencapaian konsep lebih memfokuskan pada pengembangan berpikir keritis siswa dalam bentuk menguji hipotesis. Dalam pembelajaran harus ditekankan pada analisis siswa terhadap hipotesis yang ada dan mengapa hipotesis itu diterima, dimodifikasi, atau ditolak. Siswa harus dilatih dalam menciptakan jenis-jenis kesimpulan, seperti membuat contoh penyangkal atau non-contoh, dan sebagainya.

Oleh karena itu, tujuan pembelajaran harus ditekankan pada dua aspek tersebut, yaitu pengembangan konsep dan relasi-relasi antara konsep yang terkait erat, serta latihan berpikir keritis terutama salam merumuskan dan menguji hipotesis. Aspek penting dalam perencanaan pelajaran adalah guru harus mengetahui persis apa yang diinginkan dari siswanya.


3. Merencanakan Pelajaran Model Pencapaian Konsep

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pelajaran menggunakan model pencapaian konsep adalah sebagai berikut :

  1. Menetapkan materi

    Seperti halnya dengan model-model pembelajaran yang lain, ketika akan menerapkan model pencapaian konsep guru harus menetapkan materi-materi yang akan diajarkan. Materi dalam hal ini bentuknya adalah konsep (bukan generalisasi, rumus, atau prinsip). Konsep yang akan dijarkan itu sebaiknya bukan baru sama sekali bagi siswa. Harus diingat bahwa model ini akan lebih efektif bila siswa yang akan diaja itu memiliki beberapa pengalaman tentang konsep yang akan diajarkan.

    1. Pentingnya tujuan pembelajaran yang jelas

      Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tujuan penggunaan model pencapaian konsep mencakup membantu siswa mengembangkan konsep dan relasi-relasi antara konsep itu dan memberikan latihan kepada mereka tentang proses berpikir keritis terutama dalam peumusan dan pengujian hipotesis.

3. Memilih contoh dan non-contoh

Faktor yang paling penting dalam memilih contoh adalah mengidentifikasi contoh-contoh yang paling baik mengilustrasikan konsep tersebut. Disamping itu, contoh yang dipilih juga harus dapat memperluas pemikiran siswa tentang konsep yang diajari itu sebagai contoh. Hal yang lain juga perlu diperhatikan dalam memilih contoh adalah tidak memilih contoh yang terisolasi dari konteks. Artinya contoh yang dipilih harus ada dalam lingkungan dimana siswa beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari ataupun yang ada dalam jangkauan pemikirannya. Selain memilih contoh positif, guru juga menyiapkan contoh-contoh negatif atau non-contoh. Dalam memilih contoh negatif, diupayakan merubah karakteristikesensial menjadi karakteristik non esensial pada konsep yang akan diajarkan dan menyajikan semua hal-hal yang bukan merupakan karakteristik esensial konsep itu.

  1. Mengurutkan contoh

    Setelah memilih contoh dan non-contoh, tugas akhir dalam merencanakan pelajaran adalah bagaimana mengurutkan contoh dan non-contoh itu. Jika pengembangan berpikir keritis menjadi tujuan penting bagi guru, contoh-contoh itu harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir keritis mereka. Menunjukkan secara cepat atau lengsung makna dari konsep yang diajarkan, tidak memberi kesempatan kepada siswa dalam melakukan analisis dan akibatnya tidak menghasilkan pemahaman yang sangat dalam terhadap konsep yang dikaji. Dalam mengurutkan conth, guru dapat melakukan dengan menyajikan dua atau lebih contoh positifm kemudian diikuti dua atau lebih contoh negatif (non-contoh).

4. Model Pembelajaran Pencapaian Konsep (Concept Attainment)

Model pembelajaran concept attainment dilakukan melalui fase-fase yang dikemas dalam bentuk sintaks. Adapun sintaksnya dibagi ke dalam tiga fase, yakni (1) Presentasi Data dan Identifikasi Data; (2) menguji pencapaian dari suatu konsep; dan (3) analisis berpikir strategi.


Fase I: Presentasi Data dan Identifikasi Data

Langkah-langkah kegiatan mengajar sebagai berikut:

1.
Guru mempresentasikan contoh-contoh yang sudah diberi nama (berlabel),

2.
Guru meminta tafsiran siswa

3.
Guru meminta siswa untuk mendefinisikan

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut:

1.
Siswa membandingkan contoh-contoh positif dan contoh-contoh negatif,

2.
Siswa mengajukan hasil tafsirannya,

3.
Siswa membangkitkan dan menguji hipothesis,

4.
Siswa menyatakan suatu definisi menurut atribut essensinya

Fase II: Menguji Pencapaian dari suatu Konsep

Langkah-langkah kegiatan mengajar sebagai berikut:

1.
Guru meminta siswa untuk mengidentifikasi contoh-contoh tambahan yang tidak bernama,

2.
Guru menkonfirmasikan hipothesis, nama-nama konsep, dan menyatakan kembali definisi menurut atribut essensinya,

3.
Guru meminta contoh-contoh lain

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut:

1.
Siswa member contoh-contoh,

2.
Siswa member nama konsep,

3.
Siswa mencari contoh lainnya

Fase III: Analisis Startegi Berpikir

Langkah-langkah kegiatan mengajar sebagai berikut:

1.
Guru bertanya mengapa dan bagaimana

2.
Guru membimbing diskusi

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut:

1.
Siswa menguraikan pemikirannya,

2.
Siswa mendiskusikan peran hipothesis dan atributnya,

3.
Siswa mendiskusikan berbagai pemikirannya

  1. Berpikir Induktif
    1. Pengertian Model Berpikir Induktif

      Model pembelajaran berpikir induktif merupakan karya besar Hilda Taba. Suatu strategi mengajar yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi.

      Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
      a. Kemampuan berpikir dapat diajarkan;.

      b. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu. Dalam seting tersebut, mana siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep, yaitu (a) saling menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut, (b) menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis, dan (c) memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu. Guru, dalam hat ini, dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut;

    c. Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan (lawful).

    Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.

    2. Prosedur Pembelajaran

    Postulat yang diajukan Taba di atas menyatakan bahwa keterampilan berpikir harus diajarkan dengan menggunakan strategi khusus. Menurutnya, berpikir induktif melibatkan tiga tahapan dan karenanya ia mengembangkan tiga strategi cara mengajarkannya. Strategi pertama adalah pembentukan konsep (concept formation) sebagai strategi dasar; kedua, interpretasi data (data interpretation); dan ketiga adalah penerapan prinsip (application of principles).

    Strategi 1: Pembentukan Konsep

    Tahapan pertama ini terdiri dari tiga langkah yaitu

    1. mengidentifikasi data yang relevan dengan permasalahan,
    2. mengelompokkan data atas dasar kesamaan karakteristik dan
    3. membuat kategori serta memben label, pada kelompok-kelompok data yang memiliki kesamaan karakteristik.

    Strategi 2: Interpretasi Data

    Strategi kedua ini merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat , dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.

    Strategi 3: Penerapan Prinsip

    Strategi 3 merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda.. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.

    3. Aplikasi

    Model pembelajaran berfikir induktif
    ditujukan untuk membangun mental kognitif. Karenanya sangat sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Namun demikian, strategi ini .sangat membutuhkan banyak informasi yang harus digali oleh siswa. Kelebihan. lain dari model ini, walaupun sangat sesuai untuk “social study” tapi juga dapat digunakan untuk semua mata pelajaran, seperti sains, bahasa dan lain-lain. Satu hal lagi yang tak kalah penting, model ini juga secara tidak langsung dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.

    KESIMPULAN


Berdasarakan uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan:

  1. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.
  2. Ada beberapa model yang termasuk ke dalam pendekatan pembelajaran pemrosesan informasi, di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Model Perolehan Konsep, tokohnya adalah Jerome Brunner.
  • Model Berpikir Induktif, tokohnya adalah Hilda Taba,
  1. Pembelajaran model pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar bersifat induktif didefinisikan untuk membantu siswa dari semua usia dalam memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari dari melatih menguji hipotesis.
  2. Model pembelajaran berpikir induktif merupakan model pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi yang bertujuan untuk membangun mental kognitif.

    DAFTAR PUSTAKA

Joyce B, et all. 2000. Models of Teaching. Needham Heights USA: A Person Education Company

http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/972 diakses tanggal 8 April 2010

http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/06/model-pembelajaran-pencapaian konsep.html diakses tanggal 8 April 2010

http://russamsimartomidjojocentre.blogspot.com/2009/03/model-pembelajaran-concept-attainment.html diakses tanggal 8 April 2010

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/06/model-pembelajaran-berpikir-induktif.html diakses tanggal 8 April 2010

http://zaifbio.wordpress.com/2009/07/01/model-model-pembelajaran/ diakses tanggal 8 April 2010

http://ndhiroszt.multiply.com/journal/item/3 diakses tanggal 8 April 2010


One response to this post.

  1. nice info bos….
    check it out.. klik ini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: