AGEN PEMBAHARU 2 (sambungan)

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Agen Pembaharu

Agen pembaharu (change agent) adalah orang yang bertugas mempengaruhi klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh pengusaha pembaharuan (change agency). Semua agen pembaharu bertugas membuat jalinan komunikasi antara pengusaha pembaharuan (sumber inovasi) dengan sistem klien (sasaran inovasi).

Tugas utama agen pembaharu adalah melancarkan jalannya arus inovasi dari pengusaha pembaharuan ke klien. Proses komunikasi ini akan efektif jika inovasi yang disampaikan kepada klien harus dipilih yang sesuai dengan kebutuhannya atau sesuai dengan masalah yang sedang dihadapinya. Agar jalinan komunikasi dalam proses difusi inovasi ini efektif, maka umpan balik dari sistem klien harus disampaikan kepada pengusaha pembaharuan melalui agen pembaharu. Dengan berdasarkan umpan balik ini pengusaha pembaharuan dapat mengatur kembali bagaimana sebaiknya agar komunikasi dapat lebih efektif.

Sebenarnya jika tidak terdapat kesenjangan sosial dan teknik antara pengusaha pembaharuan dan klien dalam proses difusi inovasi, tidak perlu ada agen pembaharu. Dalam kenyataannya, pengusaha pembaharu biasanya didirikan oleh orang-orang yang ahli atau berpendidikan tinggi dalam bidang inovasi yang sedang didifusikan, misalnya Doktor dalam bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Oleh karena terdapat perbedaan pengetahuan yang sangat jauh dari klien, maka terjadi hambatan komunikasi. Bahkan mungkin antara pengusaha pembaharuan dengan klien bukan hanya heterophily dalam bidang teknik, tetapi juga dalam bidang sosial-ekonomi, adat-istiadat, kepercayaan, dan sikap. Perhatikan bagan 1 berikut.


Arus kebutuhan dan umpan                     Arus inovasi cari pengusaha

balik dari klien ke pengusaha                     pembaharuan ke klien

pembaharuan

Bagan 1. Agen pembaharu sebagai penghubung antara pengusaha pembaharu dengan klien

(Rogers, 1983)

Agen pembaharu justru menjalin hubungan dua sistem sosial yang mungkin keduanyaheterophily, yaitu berhubungan dengan pengusha pembaharuan dan sistem klien. Adanya kesenjangan heterophily pada kedua sisi agen pembaharu dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi. Sebagai penghubung antara dua sistem sosial yang berbeda sebaiknya agen pembaharu bersikap marginal, ia berdiri dengan satu kaki pada pengusaha pembaharu dan satu kaki yang lain pada klien. Keberhasilan agen pembaharu dalam melancarkan proses komunikasi antara pengusaha pembaharu dengan klien merupakan kunci keberhasilan proses difusi inovasi.

Di samping masalah marginal, agen pembaharujuga menghadapi masalah saratnya informasi dari pengusaha pembaharu yang harus disampaikan ke klien. Agen pembaharu harus dapat mengatasi dengan cara mengadakan seleksi informasi disesuaikan dengan masalah dan kebutuhan klien. Dengan memahami klien agen pembaharu dapat membatasi informasi yang disampaikan kepada klien hanya yang relevan dengan kebutuhan.

  1. Fungsi dan Tugas Agen Pembaharu

Fungsi utama agen pembaharu adalah penghubung antara pengusaha pembaharuan (change agency) dengan klien (client) dengan tujuan agar inovasi dapat diterima (diterapkan) oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha pembaharuan. Kunci keberhasilan diterimanya inovasi oleh klien terutama terletak pada komunikasi antara agen pembaharu dengan klien. Jika komunikasi lancar dan efektif, maka proses penerimaan inovasi akan lebih cepat dan maikn mendekati tercapainya tujuan yang diinginkan. Sebaliknya jika kominikasi terhambat, maka makin tipis harapan diterimanya inovasi. Oleh karena itu, tugas utama yang harus dilakukan agen pembaharu adalah memantapkan hubungan atau relasi dengan klien. Kemantapan hubungan antara agen pembaharu dengan klien, akan melancarkan komunikasi.

Menurut Zaltman (1977), ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh agen pembaharu dalam usaha memantapkan hubungannya dengan klien, yaitu:

  1. Di mata klien seorang agen pembaharu harus tampak benar-benar mampu (competent) serta secara resmi mendapat tugas untuk membantu klien dalam usaha meningkatkan kehidupannya atau meemcahkan masalah yang dihadapinya.
  2. Harus diusahakan terjadinya pertukaran informasi tentang hal-hal yang diharapkan akan dicapai dalam proses perubahan (inovasi) antara agen pembaharu dengan klien.
  3. Perlu diusahakan adanya sanksi yang tepat terhadap target perubahan yang ajan dicapai. Dengan adanya sanksi akan mendorong klien untuk berusaha dengan sungguh-sungguh mencapai target perubahan yang telah disepakati.

Rogers, mengemukakan ada tujuh langkah kegiatan agen pembaharu dalam pelaksanaan tugasnya memperkenalkan inovasi tunggal kepada sistem klien, yaitu:

  1. Membangkitkan kebutuhan untuk berubah. Biasanya agen pembaharu pada awal tugasnya diminta untuk membantu kliennya agar mereka sadar akan perlunya perubahan. Agen pembaharu mulai dengan mengemukakan berbagai masalah yang ada, membantu menemukan masalah yang penting dan mendesak, serta meyakinkan klien bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut. Pada tahap ini, agen pembaharu menentukan kebutuhan klien dan membantu cara menemukan masalah atau kebutuhan dengan cara konsultatif.
  2. Memantapkan hubungan pertukaran informasi. Sesudah menentukan kebutuhan untuk berubah, agen pembaharu harus segera membina hubungan lebih akrab dengan klien. Agen pembaharu dapat meningkatkan hubungan yang baik dengan klien dengan cara menumbuhkan kepercayaan klien pada kemampuannya, saling mempercayai, dan agen pembaharu harus menunjukkan emphati pada masalah dan kebutuhan klien.
  3. Mendiagnosa masalah yang dihadapi. Agen pembaharu bertanggung jawab untuk menganalisa situasi masalah yang dihadapi klien agar dapat menentukan mengapa berbagai alternatif yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan klien (diperlukan alternatif baru). Untuk sampai pada kesimpulan diagnosa, agen pembaharu harus meninjau situasi dengan penuh emphati. Agen pembaharu harus melihat masalah dengan kaca mata klien, artinya kesimpulan diagnosa harus berdasarkan analisa situasi dan psikologi klien, bukan berdasarkan pendangan pribadi agen pembaharu.
  4. Membangkitkan kemauan klien untuk berubah. Setelah agen pembaharu menggali berbagai macam cara yang mungkin dapat dipakai oleh klien untuk mencapai tujuan, maka agen pembaharu bertugas untuk mencari cara memotivasi dan menarik perhatian klien agar timbul kemauannya untuk berubah (membuka dirinya untuk menerima inovasi). Tetapi cara yang digunakan harus berorientasi pada klien, artinya berpusat pada kebutuhan klien, jangan terlalu menonjolkan inovasi.
  5. Mewujudkan kemauan dalam perbuatan. Agen pembaharu berusaha untuk mencoba mempengaruhi tingkah laku klien dengan persetujuan dan berdasarkan kebutuhan klien (jangan memaksa). Pada tahap ini, tindakan agen pembaharu yang paling tepat menggunakan pengaruh secara tidak langsung, yakni dengan mendayahgunakan pengaruh pemuka pendapat agar mengaktifkan kegiatan kelompok klien.
  6. Menjaga kestabilan penerimaan inovasi dan mencegah tidak berkelanjutannya inovasi (discontinuances). Gen pembaharu harus berusaha membina kestabilan penerimaan inovasi dengan cara memberi penguatan kepada klien yang telah menerapkan inovasi. Perubahan tingkah laku yang sudah sesuai dengan inovasi dijaga jangan sampai berubah kembali pada keadaan sebelum adanya inovasi.
  7. Mengakhiri hubungan ketergantungan. Tujuan akhir tugas agen pemabaharu adalah dapat menumbuhkan kesadaran untuk berubah dan kemampuan untuk merubah dirinya, sebagai anggota sistem sosial yang selalu menghadapi tantangan kemajuan zaman. Agen pembaharu harus berusaha untuk mengubah posisi klien dari ikatan percaya pada kemampuan agen pembaharu menjadi bebas dan percaya kepada kemampuan sendiri.

Peran Guru sebagai Agen Pembaharu

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi pengkhutbah yang terus berceramah dan berteori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu. Peserta didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia-manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai “masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana sang murid berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengekang kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.

Dalam hal ini guru memiliki peran yang amat vital dalam proses pembelajaran di kelas. Gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam konteks demikian, gurulah yang akan menjadi aktor penentu keberhasilan siswa didik dalam mengadopsi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan hakiki.

Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak terpasung dalam suasana yang kaku dan monoton. Para siswa didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara diceramahi. Para siswa juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis. Tentu saja, secara demokratis, tanpa melupakan kaidah-kaidah keilmuan, sang guru perlu memberikan penguatan-penguatan sehingga tidak terjadi salah konsep yang akan berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.

Bersambung…………………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: