AGEN PEMBAHARU 4 (sambungan)

  1. A. Sistem Difusi Sentralisasi dan Desentralisasi

Sistem difusi yang telah lama digunakan adalah sistem difusi sentralisasi, yang sering juga disebut sistem difusi model klasik. Adapun ciri-ciri pokok sistem difusi sentralisasi adalah ide inovasi muncul dari para ahli yang kemudian disebarluaskan dalam bentuk paket yang seragam kepada anggota sistem sosial yang mungkin akan menerima atau menolak inovasi.

Mulai tahun 1970, Rogers menyadari bahwa sistem difusi sentralisasi tidak dapat terlaksana sama seperti apa yang telah direncanakan oleh penemunya, tetapi kenyataannya banyak terjadi modifikasi atau re-invensi dalam penerapannya di lapangan. Demikian pula, Schon pada tahun 1971 menyatakan bahwa teori difusi jauh tertinggal dari kenyataan timbulnya tantangan, perlu sistem difusi yang baru. Ia menyatakan bahwa sistem sentralisasi tidak dapat menampung munculnya ide-ide baru dari berbagai bidang yang sangat komplek dan terjadinya difusi melalui jalur horizontal. Maka kemudian timbul sistem difusi desentralisasi yang ditandai dengan munculnya ide baru tidak dari seorang atau sekelompok ahli, tetapi dapat dari siapa saja dan juga proses penyebarannya diatur oleh calon penerima inovasi sendiri. Jadi, sasaran inovasi juga berperan sebagai agen pembaharu.

Perbandingan antara sistem difusi sentralisasi dan sistem difusi desentralisasi dapat diuraikan sebagai berikut:

No. Sistem Difusi Sentralisasi Sistem Difusi Desentralisasi
1. Wewenang pengambil keputusan dan kebijakan berada pada administrator pusat dan para ahli bidang ilmu (technical subject-matter expert). Keputusan dan kebijakan diambil secra bersama oleh anggota-anggota sistem difusi. Klien dikontrol oleh pimpinan masyarakat setempat.
2. Arah difusi dari pusat ke bawah (top-down), artinya dari para ahli (penemu inovasi) disebarkan ke para sasaran penerima inovasi di daerah. Arah difusi secara horizontal dari kelompok ke kelompok (peer diffusion).
3. Sumber inovasi dari organisasi formal “Penelitian dan Pengembangan” yang ditangani oleh para ahli. Sumber inovasi datang dari percobaan bukan harus orang ahli darin wilayah setempat, yang juga sering menjadi pemakainya.
4. Penetapan difusi inovasi dilakukan oleh tenaga administrator di pusat dan para ahli bidang ilmu. Penetapan difusi inovasi oleh kelompok masyarakat setempat (lokal) berdasarkan penilaian inovasi secara informal.
5. Pendekatan yang digunakan berorientasi pada inovasi, penentuan kebutuhan klien berdasarkan adanya inovasi dengan teknik pelaksanaan didorong dari atas. Menggunakan pendekatan yang berorientasi kepada pemecahan maslah yang timbul dari apa yang diamati dan dirasakan oleh masyarakat setempat dengan teknik pelaksanaan ditarik dari bawah.
6. Tidak banyak terjadi re-invensi serta modofikasi untuk disesuaikan dengan kondisi setempat selama dalam proses difusi inovasi. Banyak terjadi re-invensi dan penyesuaian dengan kondisi setempat selama dalam proses difusi antar anggota sistem sosial.

Dalam pelaksanaan difusi inovasi tidak dapat dibedakan secara tegas mana yang sentralisasi dan yang deentralisasi, biasanya mana yang dominan dari ciri-ciri tersebut, sehingga difusi cenderung sentralisasi atau desentralisasi. Rogers menggambarkan rentangan difusi inovasi yang merupakan continuum dari desentralisasi ke sentralisasi.

Adapun kelebihan sistem desentralisasi adalah difusi inovasi yang dilakukannya sesuai dengan kebutuhan klien. Hal ini terjadi karena klien sebagai pemakai juga ikut berpartisipasi dalam membuat berbagai keputusan, seperti mana problem yang paling mendesak, bagaimana inovasi akan diterima, perlukah modifikasi atau re-invensi dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi setempat, dan klien juga ikut mengontrol pelaksanaan difusi. Masalah kesenjangan klien-agen pembaharu heterophily tidak terjadi dan kalau ada sangat kecil kemungkinannya. Motivasi untuk menerima inovasi datang dari klien sendiri dan kemungkinan besar biaya operasional lebih murah, yang jelas tidak perlu biaya untuk memberi upah tenaga ahli. Terpupuk pengembangan sikap percaya kemampuan sendiri.

Kelemahan sistem difusi desentralisasi jika dibandingkan dengan sistem difusi sentralisasi antara lain:

  1. Jika inovasi yang akan disebarluaskan memerlukan tenaga ahli (sarjan di bidang tertentu), maka difusi desentralisasi kurang tepat digunakan karena akan terjadi kesukaran mencari tenaga ahli.
  2. Sistem difusi desentralisasi yang dilaksanakan secara ekstrim memiliki kelemahan kurang adanya koordinasi, untuk menentukan masalah yang dihadapi, inovasi mana yang tepat digunakan, siapa yang mengontrol pelaksanaan difusi, dan sebagainya.
  3. Pada suatu saat kadang-kadang memang diperlukan menyebarkan inovasi yang klien tidak merasa memerlukannya. Maka jika tidak menggunakan sistem desentralisasi tidak akan terjadi difusi.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sistem didusi desentralisasi lebih tepat digunakan untuk menyebarkan inovasi yang tidak melibatkan tenaga ahli tingkat tinggi dan sasaran perubahannya heterogen. Jika sasaran perubahannya homogen secara relatif lebih tepat dengan sistem sentralisasi.
  2. Dapat juga dilakukan kombinasi antara beberapa unsur sistem desentralisasi dan sistem sentralisasi. Misalnya untuk koordinasi kegiatan  menggunakan sistem sentralisasi, tetapi untuk menentukan mana inovasi yang akan didifusikan berdasarkan kebutuhan dengan sistem desentralisasi.

Bersambung…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: