Download Perangkat Pembelajaran SMP Terbaru

RPP, SILABUS, KKM PROTA DAN PROMES PENJASKES

RPP PENJASORKES BERKARAKTER SMP

Silabus PENJASORKES Berkarakter SMP

Berikut beberapa perangkat pembelajaran yang lainnya, silakan di download

…………………………………………….xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx…………………………………………………..

RPP, SILABUS, KKM PROTA DAN PROMES IPS

RPP IPS Berkarakter SMP

 
 

Silabus IPS Berkarakter SMP

Berikut beberapa Perangkat Pembelajaran yang lainnya

 
 

…………………………………………….xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx…………………………………………………..

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES PKN

RPP PKN Berkarakter SMP

Silabus PKN Berkarakter SMP

Berikut Perangkat Pembelajaran yang lainnya

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES BAHASA INDONESIA

RPP Bahasa Indonesia Berkarakter SMP

  1. RPP Bahasa Indonesia Berkarakter SMP Kelas IX sms 2


    Silabus Bahasa Indonesia Berkarakter SMP
    1. Berikut daftar Perangkat Pembelajran yang lainnya


 

Download RPP, Silabus, KKM, Prota dn Prosem SMP Terbaru

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES IPA

RPP IPA Berkarakter (Ilmu Pengetahuan Alam) SMP

  1. RPP IPA Berkarakter SMP Kelas 7 Semester 1 
  2. RPP IPA Berkarakter SMP Kelas 7 Semester 2 
  3. RPP IPA Berkarakter SMP Kelas 8 Semester 1 
  4. RPP IPA Berkarakter SMP Kelas 8 Semester 2 
  5. RPP IPA Berkarakter SMP Kelas 9 Semester 1 
  6. RPP IPA Berkarakter SMP Kelas 9 Semester 2

Silabus IPA Berkarakter (Ilmu Pengetahuan Alam) SMP

  1. Silabus IPA Berkarakter SMP Kelas 7 Semester 1 
  2. Silabus IPA Berkarakter SMP Kelas 7 Semester 2 
  3. Silabus IPA Berkarakter SMP Kelas 8 Semester 1 
  4. Silabus IPA Berkarakter SMP Kelas 8 Semester 2 
  5. Silabus IPA Berkarakter SMP Kelas 9 Semester 1 
  6. Silabus IPA Berkarakter SMP Kelas 9 Semester 2

Download beberapa Perangkat Pembelajaran  yang lain lagi

  1. KKM Kelas VII
  2. KKM Kelas VIII
  3. KKM Kelas IX
  4. SK KD Kelas VII
  5. SK KD Kelas VIII
  6. SK KD Kelas IX
  7. PEMETAAN Kelas VII
  8. PEMETAAN Kelas VIII
  9. PEMETAAN Kelas IX
  10. PROTA Kelas VII
  11. PROTA Kelas VIII
  12. PROTA Kelas IX
  13. PROMES Kelas VII
  14. PROMES Kelas VIII
  15. PROMES Kelas IX

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES SBK

RPP Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter smp mts

  1. RPP Seni Budaya Berkarakter SMP Kelas VII sms 1 
  2. RPP Seni Budaya Berkarakter SMP Kelas VII sms 2 
  3. RPP Seni Budaya Berkarakter SMP Kelas VIII sms 1 
  4. RPP Seni Budaya Berkarakter SMP Kelas VIII sms 2 
  5. RPP Seni Budaya Berkarakter SMP Kelas IX sms 1 
  6. RPP Seni Budaya Berkarakter SMP Kelas IX sms 2

Silabus Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter SMP MTS  

  1. Silabus Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter SMP Kelas 7 sms satu 
  2. Silabus Seni Budaya Keterampilan Berkarakter SMP Kelas 7 sms dua 
  3. Silabus Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter SMP Kelas VIII sms 1 
  4. Silabus Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter SMP Kelas VIII sms 2 
  5. Silabus Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter SMP Kelas IX sms 1 
  6. Silabus Seni Budaya dan Keterampilan Berkarakter SMP Kelas IX sms 2

Berikut Perangkat Pembelajaran yang lainnya

  1. KKM Kelas VII
  2. KKM Kelas VIII
  3. KKM Kelas IX
  4. PEMETAAN Kelas VII
  5. PEMETAAN Kelas VIII
  6. PEMETAAN Kelas IX
  7. PROTA Kelas VII
  8. PROTA Kelas VIII
  9. PROTA Kelas IX
  10. PROMES Kelas VII
  11. PROMES Kelas VIII
  12. PROMES Kelas IX

…………………………………………….xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx…………………………………………………..

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES PAI

RPP PAI Berkarakter SMP

  1. RPP Berkarakter PAI SMP Kelas 7 semester satu
  2. RPP Berkarakter PAI SMP Kelas 7 semester dua
  3. RPP Berkarakter PAI SMP Kelas 8 semester satu
  4. RPP Berkarakter PAI SMP Kelas 8 semester dua
  5. RPP Berkarakter PAI SMP Kelas 9 semester satu
  6. RPP Berkarakter PAI SMP Kelas 9 semester dua

 
 

Silabus PAI Berkarakter SMP

  1. Silbus Berkarakter PAI SMP Kelas 7 semester satu
  2. Silbus Berkarakter PAI SMP Kelas 7 semester dua
  3. Silbus Berkarakter PAI SMP Kelas 8 semester satu
  4. Silbus Berkarakter PAI SMP Kelas 8 semester dua
  5. Silbus Berkarakter PAI SMP Kelas 9 semester satu
  6. Silbus Berkarakter PAI SMP Kelas 9 semester dua

 
 

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES TIK

Berikut RPP TIK Berkarakter SMP MTS dan silabusnya dapat anda download

  1. RPP TIK Berkarakter SMP Kelas 7 Semester 1 
  2. RPP TIK Berkarakter SMP Kelas 7 Semester 2 
  3. RPP TIK Berkarakter SMP Kelas 8 Semester 1 
  4. RPP TIK Berkarakter SMP Kelas 8 Semester 2 
  5. RPP TIK Berkarakter SMP Kelas 9 Semester 1 
  6. RPP TIK Berkarakter SMP Kelas 9 Semester 2

Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 7 8 9 Semester Ganjil dan Genap

  1. Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 7 Semester Satu 
  2. Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 7 Semester Dua 
  3. Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 8 Semester Satu 
  4. Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 8 Semester Dua 
  5. Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 9 Semester Satu 
  6. Silabus TIK Berkarakter SMP Kelas 9 Semester Dua

Setelah Download Silabus dan RPP TIK SMP Berkarakter SMP/MTS, jangan lupa download Perangkat Pembelajran yang lain di bawah ini

  1. KKM Kelas VII
  2. KKM Kelas VIII
  3. KKM Kelas IX
  4. SK KD Kelas VII
  5. SK KD Kelas VIII
  6. SK KD Kelas IX
  7. PEMETAAN Kelas VII
  8. PEMETAAN Kelas VIII
  9. PEMETAAN Kelas IX
  10. PROTA Kelas VII
  11. PROTA Kelas VIII
  12. PROTA Kelas IX
  13. PROMES Kelas VII
  14. PROMES Kelas VIII
  15. PROMES Kelas IX

RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES BAHASA INGGRIS

  1. RPP Bahasa Inggris Kelas VII/7
  2. RPP Bahasa Inggris Kelas VIII/8
  3. RPP Bahasa Inggris Kelas IX/9

  
 

Berikut Silabus Bahasa Inggris  Berkarakter SMP kelas 7, 8, 9

  1. Silabus Bahasa Inggris Kelas VII/7 Semester 1
  2. Silabus Bahasa Inggris Kelas VII/7 Semester 2
  3. Silabus Bahasa Inggris Kelas VIII/8
  4. Silabus Bahasa Inggris Kelas IX/9

Perangkat Pembelajaran yang lainnya

  1. KKM Kelas VII
  2. KKM Kelas VIII
  3. KKM Kelas IX
  4. SK KD Kelas VII
  5. SK KD Kelas VIII
  6. SK KD Kelas IX
  7. PROTA Kelas VII
  8. PROTA Kelas VIII
  9. PROTA Kelas IX
  10. PROMES Kelas VII
  11. PROMES Kelas VIII
  12. PROMES Kelas IX
  13. PEMETAAN Kelas VII
  14. PEMETAAN Kelas VIII
  15. PEMETAAN Kelas IX

 RPP, SILABUS, KKM, PROTA DAN PROMES MATEMATIKA

Berikut RPP Matematika berkarakter SMP Kelas 7 8 dan 9

  1. RPP Matematika Berkarakter SMP Kelas VII – 1
  2. RPP Matematika Berkarakter SMP Kelas VII – 2
  3. RPP Matematika Berkarakter SMP Kelas VIII – 1
  4. RPP Matematika Berkarakter SMP Kelas VIII – 2
  5. RPP Matematika Berkarakter SMP Kelas IX – 1
  6. RPP Matematika Berkarakter SMP Kelas IX – 2
  7. Silabus Matematika Berkarakter SMP Kelas 7 Semester satu
  8. Silabus Matematika Berkarakter SMP Kelas 7 Semester dua
  9. Silabus Matematika Berkarakter SMP Kelas 8 Semester satu
  10. Silabus Matematika Berkarakter SMP Kelas 8 Semester dua
  11. Silabus Matematika Berkarakter SMP Kelas 9 Semester satu
  12. Silabus Matematika Berkarakter SMP Kelas 9 Semester dua

Selain Silabus dan RPP Matematika Berkarakter anda juga bisa mendownload perangkat pengajar yang lainnya :

  1. SK KD
  2. Pemetaan
  3. Program Semester
  4. Program Tahunan
  5. KKM

Sumber: http://smpn3geta.ucoz.com

Download Petunjuk UN 2012

  1. Permen No 59 tahun 2011 Tentang UN
  2. POS UN SMP-SMA-SMK 2012
  3. Kisi-Kisi UN 2012
  4. Presentasi Sosialisasi UN 2012
  5. Tanya Jawab Tentang UN 2012

Download Panduan BOS 2012

  1. Juknis Bos 2012
  2. Permendagri No 62 Tahun 2011
  3. Permendikbud no 51 tahun 2011 tentang BOS
  4. Permendagri Versi Cetak

PETUNJUK PENGISIAN NILAI RAPORT : KLIK DISINI

 

DOWNLOAD PEDOMAN GURU BERPRESTASI : KLIK DISINI

 

[ Seputar KTSP ]

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PEMBELAJARAN TEMATIK

Bahan Latihan Persiapan UN

Gaung Ujian Nasional kian menggema, tinggal beberapa lama lagi akan segera dihelat. Siswa yang bijaksana maka telah mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya, sehingga pada saatnya ujian ia tidak memaksakan diri untuk belajar semalam suntuk. Belajar dapat dilakukan dengan membahas soal-soal yang sudah pernah muncul, karena SKL yang ditetapkan tidak banyak bergeser dari tahun-tahun sebelumnya. Sebagai bahan latihan, silahkan kalian unduh beberapa file berikut dan berlatihlah.

  1. Pembahasan Mtk P-1 th 2010
  2. PEMBAHASAN SMP KodeB-p4tkmatematika-org
  3. PEMBAHASAN SMP KodeA-p4tkmatematika-org
  4. Prediksi Soal UN Mapel Matematika Paket B th 2010/2011
  5. Prediksi Soal UN Mapel Matematika Paket A th 2010/2011
  6. pembahasan B. Ing. UN P-1 th 2010
  7. Prediksi soal UN B. Inggris tahun 2010/2011 Paket B1
  8. Prediksi Soal UN B. Inggris tahun 2010/2011 Soal A1
  9. EYD terbaru dari Permendiknas 46 2009
  10. Pembahasan B.IND_P_1 th 2010
  11. Prediksi Soal UN Mapel B. Indonesia Paket A th 2010/2011
  12. Prediksi Soal UN Bahasa Ind Paket-B 2011
  13. Pembahasan mapel biologi soal UN th 2009/2010 P-1
  14. Pembahasan SOAL UN Fisika PAKET 1-3 2010
  15. Prediksi UN mapel IPA paket A 2011 (26-11-10)
  16. Prediksi Soal UN Mapel IPA Paket B th 2010/2011
  17. Prediksi Soal UN Mapel IPA Paket A th 2010/2011

File berasal dari beberapa sumber.

Jadwal UN dan Pengumuman Lulus 2012

 
 

Ujian Nasional (Unas) Tahun Pelajaran 2011/2012 telah dijadwalkan oleh  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh memastikan pemerintah tetap akan menggelar ujian nasional yang dijadwalkan berlangsung pada April 2012.

Menurut Mendikbud,  ada empat kunci pelaksanaan UN yang baik atau kredibel.

  • Pertama, dijamin keamanan dan kerahasiaannya. Karena jika berkasnya bocor, maka kredibilitas UN itu sudah berkurang, bahkan hilang.
  • Kedua, dari sisi ketepatan distribusi, harus tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat bahan yang mau diuji.
  • Ketiga, pada hari pelaksanaan harus dijamin kelancarannya.  Jangan sampai soal sudah ada semua tapi soal ujian yang dibagikan salah. “Kalau seandainya terjadi kesalahan, maka harus disiapkan satu sistem yang mampu mengantisipasi kesalahan tersebut,” katanya.
  • Keempat, dalam sistem evaluasi harus dipastikan agar nilai rapor bisa menjamin bahwa nilai itu mencerminkan kemampuan sang anak. “Nilai rapor jangan mencekungkan atau mencembungkan nilai anak yang sebenarnya,” kata Menteri Nuh.

Kriteria Kelulusan

Menteri Nuh menegaskan, bahwa ujian nasional bukanlah penentu kelulusan.  Kelulusan ditentukan satuan pendidikan. Namun, satuan pendidikan menentukan kelulusan berdasarkan, tuntas kegiatan belajar mengajar, akhlak yang baik, dan ujian nasional.

Jadwal UN 2012 (Utama)

  • SMA/MA: 16-19 April 2012
  • SMP/MTs dan SMPLB : 23-26 April 2012
  • SD/MI/SDLB UN : 7-9 Mei 2012

Jadwal UN 2012 (Susulan)

  • SMA/MA : 23-26 April.
  • SMP/MTs dan SMPLB:30- 4 Mei 2012.
  • SD/MI/SDLB : 14-16 Mei 2012.

Jadwal Pengumuman Lulus UN 2012

  • SMA/MA dan SMK : 24 Mei 2012.
  • SMP/MTs, SMPLB dan SMALB: 2 Juni 2012.
  • Tingkat SD, menjadi kewenangan setiap provinsi.

Sumber : http://tunas63.wordpress.com/2011/12/03/jadwal-un-dan-pengumuman-lulus-2012/

Mengajar Pendidikan karakter dengan Berkarakter

Posted by Alim Sumarno, M.Pd

Begitu gerakan pendidikan karakter mulai dicanang sejak tahun 2009, maka semangat mengimplementasikan gagasan itu mulai menggulir pada semua jenjang pendidikan. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai nilai-nilai yang diwujudkan dalam perilaku nyata sehari-hari yang bersumber dari norma agama, etika, adat istiadat, budaya, maupun undang-undang atau peraturan. Pembangunan karakter sebenarnya sudah lama menjadi kebijakan dan diintervensikan dalam pendidikan. Kita mengenal pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan kepribadian, pembiasaan, atau kegiatan intra maupun ekstrakurikuler yang membangun karakter, seperti pramuka atau pencinta alam. Di lingkungan masyarakat maupun keluarga sebenarnya upaya menumbuhkan karakter yang baik telah banyak dilakukan, seperti sopan santun, jujur, atau bertanggung jawab. Namun demikian, upaya-upaya itu belum secara luas tampak dalam kehidupan sehari-hari, dan belum menjadi karakter yang menyatu dengan pribadi keseharian.

Keprihatinan lemahnya karakter generasi bangsa dan kecenderungan kebutuhan manusia yang berkarakter dalam menghadapi persaingan global, mendorong pemerintah menggelorakan gerakan baru yang berlabel pendidikan karakter.

Pendidikan karakter memang tidak dipaksakan sebagai mata kuliah atau pelajaran baru yang harus diajarkan kepada siswa (mahasiswa), tetapi diintegrasikan secara sistematis pada semua aspek aktivitas pendidikan seperti kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah maupun ekstrakurikuler.

Begitu urgennya pendidikan karakter tersebut, sehingga pada tingkat program studi upaya mengintervensi kepada mahasiswa terutama calon guru telah dimulai, yaitu dengan memasukkan pendidikan karakter sabagai salah satu kompetensi pada mata kuliah yang berkaitan dengan pembelajaran, yaitu Proses Belajar Mengajar (PBM I, II, III), Praktek Pengalaman Lapangan (PPL I). Pada mata kuliah tersebut mahasiswa diminta untuk membuat silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan perlengkapannya yang didalamnya memuat aspek-aspek karakter, seperti pada tujuan, indikator, kegiatan belajar mengajar, maupun penilaian.

Sedang pada mata kuliah lain diminta untuk menyisipkan nilai-nilai karakter dalam Garis-garis Besar Program Perkuliahan (GBRP), dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Nilai-nilai itu dimunculkan tidak hanya sebagai dampak samping saja, tetapi dampak yang sengaja dirancang. Misalkan pada tujuan pembelajaran disebutkan “mahasiswa dapat membangun struktur matematika sederhana dari geometri finit secara mandiri dan bertanggung jawab”. Pada kegiatan pembelajaran, dosen memberi tanggung jawab kepada masing-masing mahasiswa untuk membuat definisi-definisi dan teorema-teorema dari aksioma yang diketahui secara mandiri. Dosen memantau aktivitas mahasiswa ketika pembelajaran dengan memberikan penilaian seperti “apakah mahasiswa selalu, jarang, atau tidak pernah melaksanakan tugas sesuai dengan instruksi dan sungguh-sungguh?”, kemudian “apakah tugas yang diberikan itu selalu, jarang, atau tidak pernah dikerjakan sendiri atau meniru hasil temannya?”. Akumulasi nilai yang diperoleh ini digunakan sebagai bagian dari nilai akhir, yaitu termasuk nilai partisipasi atau bagian nilai dari tugas. Pedoman penilaian di UNESA untuk nilai akhir suatu mata kuliah menggunakan acuan 20% ujian tengah semester, 30% tugas mandiri dan kelompok, 30% ujian akhir semester, dan 20% partisipasi.

Upaya melalui peraturan ini paling tidak memberi arah pengembangan pendidikan karakter bagi mahasiswa. Implementasi di ruang kuliah, para dosen diminta melaksanakan dengan sesungguhnya rancangan penyisipan nilai-nilai yang baik itu sebagai bagian dari karakter dosen masing-masing. Bagaimana mengetahui implementasinya? Program studi melakukan supervisi sekali dua kali dalam satu semester, dan melalui angket yang diberikan kepada mahasiswa untuk menilai kinerja dosen. Aktivitas itu paling tidak memberi kendali bagi dosen untuk melaksanakan pembelajaran dengan sebaiknya, karena hasil itu digunakan sebagai bahan refleksi setiap akhir semester.

Karakter adalah suatu nilai yang muncul tidak hanya sesaat, sehingga dalam mentransfer kepada mahasiswa tidak hanya keterampilan mengajar belajar saja yang diperlukan, tetapi keteladanan sehari-hari. Dengan demikian, diperlukan mengajar belajar karakter melalui karakter juga.

 

Sumber : http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/mengajar-pendidikan-karakter-dengan-berkarakter

Pengertian Hasil Belajar

Posted by Alim Sumarno, M.Pd

Hasil belajar yang sering disebut dengan istilah “scholastic achievement” atau “academic achievement” adalah seluruh efisiensi dan hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil Belajar (Briggs, 1979:147) .
Menurut Gagne dan Driscoll (1988:36) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner ‘s performance).
Gagne dan Briggs (1979:52) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan internal (capability) yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu.

Dick dan Reiser (1989:11)mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran, yang terdiri dari empat jenis, yaitu: pengetahuan, keterampilan intelektual, keterampilan motor dan sikap. Sedangkan Bloom, et.al (1966:7) membedakan hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan motor).

Setiap ranah diklasifikasikan lagi dalam beberapa tingkat atau tingkat kemampuan yang harus dicapai (level of competence). Untuk ranah “pengetahuan” mulai dari tingkat yang paling ringan yaitu; mengingat penilaian (evaluation). Ranah sikap mulai dari menangkap / merespon pasif, bereaksi dengan sukarela / merespon aktif, mengapresiasi, menghayati / internalisasi, sampai akhirnya menjadi karakter atau jiwa di alam dirinya (life style). Sedangkan ranah psikomotorik dimulai dari tingkat mengamati, selanjutnya membantu melakukan, melakukan sendiri, melakukan dengan lancar sampai secara otomatis atau reflekstoris.

Menurut Gagne (1977:42), Gagne & Driscoll (1988:74) belajar bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku, di mana tingkah laku tersebut merupakan hasil dari efek kumulatif dari belajar. Artinya banyak keterampilan yang telah dipelajari memberikan kontribusi untuk belajar keterampilan yang lebih rumit.

Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berbeda yang disebut “kapasitas”. Kapasitas itu diperoleh orang dari; (1) Stimulus yang berasal dari lingkungan, dan (2) Proses kognitif yang dilakukan si belajar.

Berdasarkan pandangan ini Gagne mendefinisikan secara formal bahwa “belajar” adalah perubahan dalam posisi atau kemampuan manusia yang bertahan selama masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Perubahan terebut berbentuk perubahan tingkah laku, hal itu dapat diketahui dengan jalan membandingkan tingkah laku sebelum belajar dan tingkah laku yang diperoleh setelah belajar. Margaret G. Bell (dalam Panen, 2000:24) Yang lain mengemukakan bahwa perubahan tingkah laku dapat berbentuk perubahan kemampuan jenis kerja atau perubahan sikap, minat atau nilai, perubahan itu harus bertahan selama beberapa waktu.

Menurut Gallowing (1976:129), belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor lain. Proses belajar disini antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan penyesuaian dengan struktur kognitif yang terbentuk dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Gagne (1977:43) menemukan lima ragam belajar yang terjadi pada manusia, yaitu; (1) Informasi verbal, (2) Keterampilan intelektual, (3) Keterampilan motor, (4) Sikap, dan (5) Siasat kognitif.

Informasi verbal adalah kemampuan yang dinyatakan dengan kategori memperoleh label atau nama-nama-nama, fakta dan bidang pengetahuan yang telah tersusun. Menurut Sinambela (1977:16) kemampuan verbal ini sangat erat hubungannya dengan hasil belajar. Hasil penelitian untuk disertasi oleh Rusiaman (1990:124) dan Mukhayar (1991:162) menemukan bahwa proses Menalar banyak tergantung dari perpaduan antara intelegensi dan kemampuan verbal siswa.Kegiatan untuk mengetahui kemampuan informasi verbal ini dilakukan dengan mengatakan, suatu faktor atau peristiwa, memberikan nama lain yang hampir sama, membuat ringkasan dari informasi yang telah dipelajari.

Data informasi verbal menurut Huda (1997:3) pada umumnya diperoleh dengan tiga teknik, yaitu; kuesioner, buku harian, dan wawancara. Dari kuesioner dan buku harian diperoleh informasi verbal tulis, namun kuesioner lebih produktif dari buku harian. Wawancara dapat menghasilkan informasi verbal lisan. Jenisnya terdiri dari wawancara konvensional yang bertanya pengalaman, perasaan, dan pengamatan yang telah dilakukan oleh siswa terhadap dirinya sendiri. Dan wawancara pada apa yang sedang berlangsung dalam pikiran siswa. Teknik kedua ini disebut verbalisasi pikiran (think aloud).
Ketrampilan intelektual adalah kemampuan yang berupa keterampilan yang membuat seseorang mampu dan berguna di masyarakat. Ketrampilan intelektual terkait dengan pendidikan formal mulai dari tingkat dasar dan seterusnya. Ketrampilan intelektual ini terdiri atas empat keterampilan yang terkait dan bersifat sederhana sampai yang rumit yaitu belajar diskriminasi (membedakan), belajar konsep konkret dan konsep menurut definisi, belajar metode dan belajar metode yang tarafnya lebih tinggi.Ketrampilan gerak (motor) adalah kemampuan yang mendasari pelaksanaan perbuatan jasmaniah. Keterampilan ini bila sering dipraktekkan akan bertambah sempurna. Untuk itu dalam mengajarkannya harus banyak pengulangan atau latihan-latihan disertai umpan balik dari lingkungan.

Sikap adalah kemampuan yang mempengaruhi pilihan pada tindakan mana yang harus diambil. Menurut Deaux & Wrightsman (1988:238) sikap adalah kesediaan untuk bertingkah laku terhadap obyek di lingkungan. Fitur-fitur dari sikap selalu melibatkan segi penilaian yang berasal dari bagian-bagian afeksi. Komponen afeksi mengandung sistem penilaian emosional yang bisa bersifat positif / negatif atau bisa menimbulkan perasaan senang / tidak senang. Berdasarkan penilaian ini maka terjadilah kecenderungan untuk bertingkah laku.

Krech & Crutchfield (1962) dalam Zahera (1997:183) mengemukakan bahwa sikap seseorang ditentukan oleh faktor kebutuhan-kebutuhan individu, informasi yang diperoleh mengenai obyek sikap, kelompok tempat individu bergabung, dan kepribadian individu. Sedangkan Nimpoeno (1988:47) menyebutkan bahwa sikap dan tingkah laku manusia sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma yang dibawa sejak masa kecilnya.Fitur kemampuan ini adalah tidak menentukan tindakan khusus apa yang harus diambil. Belajar memperoleh sikap berdasarkan pada informasi tentang apa-apa tindakan yang harus dilakukan dan apa akibatnya.

Yang terakhir adalah siasat kognitif yaitu kemampuan yang mengatur bagaimana si belajar mengelola belajarnya, seperti mahal atau berpikir dalam rangka pengendalian sesuatu untuk mengatur suatu tindakan, hal ini mempengaruhi dan perhatian si belajar dan informasi yang tersimpan dalam ingatannya. Kapasitas ini akan mempengaruhi siasat si belajar dalam rangka mencari kembali hal-hal yang telah disimpan. Siasat kognitif ini merupakan suatu proses inferensi atau induksi di mana seseorang mengingat objek dan kejadian-kejadian dalam rangka memperoleh suatu penjelasan tentang suatu gejala tertentu untuk menghasilkan induksi.

Jerome S. Bruner adalah seorang ahli Psikologi Kognitif, yang memberi dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir. Bruner tidak mengembangkan teori belajar yang sistimatis, dasar pemikiran teoritis memandang bahwa manusia adalah sebagai pemrosesan, pemikir dan pencipta informasi.

Oleh itu yang terpenting dalam belajar menurut Bruner (1961:23)adalah cara-cara bagaimana seseorang memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi yang diterimanya secara aktif. Sehubungan dengan itu Bruner sangat memperhatikan masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterima itu untuk mencapai pemahaman dan membentuk kemampuan berpikir siswa.

Selanjutnya menurut Bruner (1962:98) agar proses belajar berjalan lancar ada tiga faktor yang sangat ditekankan dan harus menjadi perhatian guru-guru di dalam menyelenggarakan pembelajaran yaitu:

  1. Pentingnya memahami struktur mata kuliah.
  2. Pentingnya belajar aktif agar seseorang bisa menemukan sendiri konsep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar.
  3. Pentingnya nilai dari berpikir induktif.

Berdasarkan pandangan Bruner ini, maka ada empat aspek utama yang harus menjadi perhatian dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut:

  1. Struktur Mata Pelajaran. Struktur mata pelajaran mengandung ide-ide, konsep-konsep dasar, hubungan antara konsep atau contoh-contoh dari konsep tersebut yang dianggap penting. Menurut Brunerpembelajaran akan lebih bermakna, kepadadan mudah diingat oleh siswa bila difokuskan pada memahami struktur mata pelajaran yang akan dipelajari, sebab si belajar dapat menghubungkan antara subyek yang satu dengan pokok bahasan yang lain, baik dalam mata pelajaran yang sama atau dalam mata pelajaran yang berbeda.
  2. Kesiapan Untuk Belajar. Dalam belajar guru harus memperhatikan kesiapan si belajar untuk mempelajari materi baru atau yang bersifat lanjutan. Kesiapan belajar dapat terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih mudah yang telah dikuasai sebelumnya dan yang memungkinkan seseorang untuk memahami dan mencapai keterampilan yang lebih tinggi. Kesiapan untuk belajar ini dipengaruhi oleh kematangan psikologis dan pengalaman si belajar. Untuk mengetahui apakah si belajar telah memiliki kesiapan untuk belajar perlu diberikan tes tentang materi awal yang terkait dengan topik yang akan diajarkan. Kapan si belajar dapat mengerjakan tes dengan baik, berarti ia telah siap. Kapan tidak mampu mengerjakan sekalipun ia telah bekerja keras, ia dinyatakan belum siap
  3. Intuisi. Menurut Bruneryang dimaksud dengan intuisi adalah teknik-teknik intelektual analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak.
  4. Motivasi. Menurut Bruner motivasi adalah kondisi khusus yang dapat mempengaruhi individu untuk belajar. Motivasi merupakan variabel penting, oleh karenanya Bruner percaya bahwa hampir semua anak-anak memiliki waktu-waktu pertumbuhan akan “keinginan untuk belajar”, imbalan (reward) dan hukuman (punishment) mungkin penting untuk meningkatkan perbuatan tertentu atau untuk membuat mereka yakin sampai mau mengulangi apa yang sudah dipelajari. Bruner menekankan pentingnya motivasi instrinsik dibandingkan motivasi ekstrinsik.

Dari uraian di atas nampak bahwa belajar merupakan jaringan aktivitas yang kompleks, tetapi dilakukan dengan sadar oleh seseorang yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Kasiyati (2000:93) mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

  1. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara Siswa dan lingkungannya.
  2. Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah, dan jelas untuk Siswa.Tujuan akan menentukan dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya.
  3. Belajar yang paling efektif saat didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber di dalam dirinya sendiri.
  4. Selalu ada rintangan dan hambatan dalam belajar, karena itu Siswa harus sanggup mengatasinya secara tepat.
  5. Belajar membutuhkan bimbingan, bimbingan itu baik dari dosen atau klaim dari buku pelajaran sendiri.
  6. Jenis belajar yang paling utama adalah belajar untuk berpikir kritis, lebih baik dari pembentukkan kebiasaan mekanis.
  7. Cara belajar yang paling efektif adalah dalam bentuk solusi masalah melalui kerja kelompok selama masalah-masalah tersebut telah disadari bersama.
  8. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
  9. Belajar membutuhkan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.
  10. Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan atau hasil.
  11. Belajar dianggap berhasil apabila sipelajar telah sanggup mentransferkan atau menerapkannya ke dalam bidang praktek sehari-hari.

Sesuai dengan prinsip-prinsip belajar pada, maka untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, diperlukan tiga tingkat aktivitas yaitu; 1).persiapan belajar, 2). pelaksanaan belajar, dan 3). pengendalian belajar.Pada tingkat persiapan yang harus dilakukan Siswa Kelas III SDN 205/IV Kota Jambi adalah menyiapkan situasi dan kondisi belajar yang menyenangkan yaitu meliputi; menyiapkan ruang belajar yang bersih, pencahayaan dan ventilasi yang baik, memelihara kesehatan jasmani, emosi dan sosial, mengatur waktu belajar, menyiapkan bahan ajar dan alat tulis yang diperlukan.

Pada tingkat pelaksanaan belajar, yang harus dilakukan adalah membaca, menghafal, membuat catatan kritis, menjawab pertanyaan, membuat pelatihan, berdiskusi atau bertanya jawab dengan teman sejawat (jika ada). Sedangkan pada tahap operasi belajar, yang dilakukan adalah mengevaluasi efektivitas hasil belajar dan menguji apakah hasil belajar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya dilihat dari proses pengukuran, dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan efisiensi nyata yang dapat diukur secara langsung dengan tes dan bisa dihitung hasilnya dengan nomor (Woodwort & Marquis, 1957:76). Hal ini berarti bahwa hasil belajar seseorang dapat diperoleh melalui perangkat tes dan dengan hasil tes dapat memberikan informasi tentang seberapa jauh kemampuan penyerapan bahan oleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran.

Oleh karena itu hasil belajar siswa adalah cermin dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang telah diukur dan ditampilkan dengan nilai. Good (1959:425) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan pengetahuan yang diperoleh atau ketrampilan yang dikembangkan dalam pelajaran di sekolah, yang biasanya ditampilkan dengan skor atau nilai atau pekerjaan yang dibangun guru.

Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam (faktor internal) maupun faktor dari luar (faktor eksternal). Menurut Suryabrata (1982:27) yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan faktor psikologis (misalnya kecerdasan, motivasi berprestasi, dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan faktor instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran) .
Gagne (1985:62) menyebut dengan istilah kondisi internal (internal conditions) dan kondisi eksternal (external condition). Faktor internal adalah faktor yang berasal dalam diri individu yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi tiga, yaitu:(1) faktor fisiologis, (2) faktor psikologis, yang meliputi faktor intelektif (kecerdasan, minat, kebutuhan, emosi dan motivasi), dan (3) faktor kematangan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang.mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut dibedakan atas faktor: (1) lingkungan budaya, (2) lingkungan fisik, (3) lingkungan spiritual, dan (4) lingkungan Agama (Rusyan & Samsudin, 1989:75). Sedangkan Bloom (1982:11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi, dan kualitas pembelajaran.

 

Sumber : http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/pengertian-hasil-belajar

 

STUDI KASUS ( CASE STUDY )

Sumber program bermutu

Oleh :

TIM WIDYAISWARA

LPMP JAWA TIMUR

Rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas. Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang masalahmasalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran

HAKIKAT CASE STUDY

Melalui pengkajian Case Study dalam pembelajaran dengan segala komponennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evalution), dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas.

Case Study ditulis dalam bentuk narasi dan berisi pengalaman pembelajaran yang paling berkesan yang Anda ingat karena kesuksesannya, kesulitan, atau pengalaman yang penuh problematika

MANFAAT CASE STUDY

Sebagai evaluasi diri (self evalution) bagi guru untuk dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas.

Sebagai pembuka wawasan mahasiswa calon guru terhadap pembelajaran dan penanaman konsep bagamana seharusnya pembelajaran itu berlangsung.

Guru dan mahasiswa calon guru dapat belajar dari kegagalan orang lain (guru penulis Case Study).

Menemukan kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran berdasarkan pengalaman penulis Case Study.

CARA MENGEMBANGKAN CASE STUDY

Seorang guru menceritakan/menulis pengalaman yang sukses atau suatu permasalahan yang menarik yang muncul saat pembelajaran dengan pokok bahasan atau topik tertentu. Pengalaman yang diceritakan/dituliskan itu menggambarkan pemikiran guru tersebut tentang mengapa permasalahan atau pengalaman tersebut menarik.

Harus ditulis sesegera mungkin supaya tidak mudah terlupakan.

Sebagai masukan dalam penulisan, penulis narasi dapat mempedomani komentarkomentar guru lain (guru mitra) yang ikut mengamati proses pembelajaran

PENULISAN Case Study

Ditulis dalam bentuk naratif yang sangat rinci dan sangat erat kaitannya dengan pengalaman yang Anda alami.

Ringkas, maksimum dua halaman ketikan. Namun, jika pengalaman yang akan diungkap dalam case study tergolong cukup esensial sebagai pengalaman bagi orang lain, case study dapat juga ditulis melebihi dua halaman ketikan.

Memuat unsur kemanusiaan: kemauan yang Anda miliki, tindakan dan kesalahan yang mengecewakan Anda, dan rasa senang atau kekecewaan pada saat selesainya pembahasan.

Memiliki judul yang dapat mewakili keseluruhan isi pengalaman pembelajaran yang dituliskan.

Pengalaman yang dituangkan dalarn case study adalah ungkapan kejujuran. Artinya, cerita dalarn case study adalah cerita Kejujuran.

PROSES PENULISAN Case Study

Ada tim kolaborasi (beberapa orang guru)

Ada persiapanpersiapan prapembelajaran

Praktik pembelajaran di kelas (ada yang berpraktik mengajar dan ada yang mengamati)

Pengamat menuliskan komentarnya

Komentar yang ditulis oleh pengamat tidak berupa proses pembelajaran, tetapi mengarah pada proses pembelajaran dengan segala komponennya

Komentar pengamat ditulis pada saat proses pembelajaran berlangsung

Pada akhir pembelajaran, komentar pengamat diserahkan kepada guru yang berpraktik mengajar

Guru yang berpraktik mengajar menuliskan pengalaman pembelajarannya dalarn bentuk narasi pembelajaran

Narasi yang sudah ditulis, diberi judul yang sesuai

Setelah menulis narasi, guru juga menulis refleksi dengan cara membaca kembali narasi yang ditulisnya, kemudian baru menuliskan refleksi.

Narasi yang sudah ditulis dibaca oleh pengamat dan pengamat menuliskan komentarnya berdasarkan’narasi dan hasil pengamatan pembelajaran

Case study dilengkapi dengan RPP dan hasil kerja siswa

Narasi mernuat semua hal yang dialami dan dirasakan guru dalam pembelajaran, termasuk di dalamnya perilaku siswa

PENULISAN REFLEKSI

Penulis disarankan membaca ulang narasi yang sudah ditulisnya itu beberapa kali, kemudian menuliskan refleksi terhadap narasi itu.

Guruguru lainnya diminta memberikan tanggapan/komentar dengan menuliskan ide-ide mereka sehubungan dengan kasus yang mereka baca tersebut.

http://suksesbersamasukarto.blogspot.com/

 

Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan

       

 

Ditulis oleh Sungging Handoko   

Pendahuluan

Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua.

Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan, pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut, dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat.

Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan.

Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya, bahwa di dalam peristiwa pendidikan, pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran, norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah.

Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati, disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat.

Dalam pada itu perlu ditegaskan, bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa, belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha, mempengaruhi, dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak.

Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu, memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan, yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”.

A.    Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan

Kalau kita tinjau pengertian sikap ini, maka pengertian itu relatif adanya. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia, maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari.

Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan, bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat, itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu, bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri.

Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak, antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain.

Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya, bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang, dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan.

B.     Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya.

1.      Sikap berpakaian.

Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang, dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian, maka hal ini kita bicarakan.

Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan, sederhana tetapi terpelihara. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan murid-murid. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali, padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh.

2.      Sikap di muka kelas.

Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Kelas menjadi gaduh, kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras, bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang, mereka harus mengidahkan suruhannya. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran, kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda, bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar, maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas, berbicaralah dengan tenang dan tegas, jangan menggangap.

Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain, yaitu, jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara, jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut, kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara), mungkin guru, sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Bagi seorang guru kita haris berani:

a.      Berani memandang tiap-tiap murid, matanya.

b.      Jangan bersikap putus asa.

c.       Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri.

d.      Jangan mengajak murid-murid.

e.       Ciptakan suasana kelas yang baik.

f.        Jangan memberi hukuman badan.

Dalam kelas yang suasananya baik, murid-murid dapat bekerja bersma-sama, saling tolong menolong. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga, cintailah murid-nurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya.

3.      Sikap sabar.

Sering guru merasa, bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme, namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. Karena itu harap sabar, karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita.

4.      Sikap yang mengejek murid.

Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek, mencela, mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”, kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu, hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya.

5.      Sikap yang lekas marah

Banyak hal yang dapat mengecewakan guru, umpamanya: murid yang tidak sopan , yang tolol, yang selalu gaduh, yang kotor, dan sebagainya. Janganlah guru lekas marah karena itu, orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Guru mudah marah menghukum anak, mengejek, mencelanya, memukulnya dan sebagainya.

6.      Sikap yang memberi hukuman badan.

Menurut peraturan sekolah, guru dilarang memberi hukuman badan, umpamanya: memukul, menedang, melempar dsb. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan, tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru, atau ia menjadi takut kepada guru, dan kedua-duanya tidak baik.

Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segan-segan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid.

Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan, dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Memukul murid dengan tongkat kecil, bukan hak itu tidak jarang dilakukan.

Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak, untuk memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis, guru boleh memberi hukuman badan, kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya, bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu, artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak, bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya, dan tidak diberikan untuk membalas dendam.

7.      Sikap yang banyak memberi larangan.

Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Guru yang baik, jarang melarang, sebab biasanya perintahnya dituruti. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid, karena itu jangan banyak melarang.

8.      Bersikap jujur dan adil.

Murid-murid akan lekasa mengerti, apakah guru itu bertidak adil dan jujur, mereka lekas melihat, bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain, ini adalah suatu bahaya bagi mereka, mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil, tidak jujur, pilih kasih dan sebagainya. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian.

9.      Sikap guru yang bertanggungjawab

Sama halnya dengan dokter, ahli hukum, insinyur, montir, gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan, metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya.

Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik, ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi, ada pula pada syarat intelek, sosial dan sebagainya. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya.

Memang dalam mendidik, seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan.

Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara.

Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat, serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral.

C.     Penutup

Daripembahasan diatas ini, maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru, dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya.

Daftar pustaka

Abu Ahmad. Didaktik Metodik, cv. Toha Putra, Semarang 1995.

Bambang Laksono., Majalah Mahasiswa No.33 Thn. VI Januari 1993

M.J. Langevld, Beknopte Theoretische Paedagogiek, diterjemajkan, Prof. DR. I. P. Simanjuntak M. A., nasco, Jakarta 1989.

Mashoed, Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar, cv. Baru Jakarta 1996.

Otang Kardi Saputra, Belajar dan

Pembelajaran , FKIP-UNLA 2000.

Winarno Surakhmad, Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar, Tarsito, Bandung 1993, cetakan ketiga.

http://educare.e-fkipunla.net/

 

Pernapasan 3

Bahan Ajar Pertemuan Ketiga

1. Kelainan dan Penyakit Karena Infeksi

         (a)     Bronitis, yaitu radang selaput lendir trakea dan bronkia

(b)    Difteri, yaitu infeksi saluran pernapasan bagian atas oleh bakteri Corynebacterium dipteriae

(c) Faringitis, yaitu radang faring yang disebabkan oleh bakteri Diplococus pneumniae atau virus.

(d) Tonsilitis, yaitu radang tonsil yang disebabkan oleh baktri.

(e) Tuberculosis (TBC), yaitu infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculose.

Kelainan dan penyakit pada sistem pernapasan karena infeksi dapat dicegah dengan pola hidup bersih, baik kebersihan diri maupun bekersihan lingkungan. Penderita penyakit akibat infeksi harus dirwat dan di bawah pengawasan dokter.

    2. Kelainan dan Penyakit Bukan Karena Infeksi

(a)     Amandel, yaitu pembengkakkan kelenjar linfe di belakang rongga mulut dan ronga hidung (tekak)

(b)     Asfiksi, yaitu gangguan pengangkutan Oksigen ke jaringan.

(c)     Asma, yaitu gangguan pada sistem pernapasan dengan gejala sukar bernapas, terasa sesak di dada, dan batuk-batuk , yang disebabkan oleh alergi, emosi, serta stres. Asma juga merupakan penyakit yang diturunkan.

(d)     Emfisema, yaitu meluasnya alveoli secara berlebihan yang mengakibatkan membesarnya paru-paru, sehingga penderita sulit bernapas.

(e) Kanker laring, yaitu tumor ganas yang sering dijumpai pada laki-laki yang berusia lebih dari 50 tahun.

(f)     Kanker paru-paru, yaitu tumor ganas dijaringan epitel bronkia yang terjadi karena efek samping kebiasaan merokok

(g)     Polip, yaitu membengkaknya kelenjar linfe di hidung.

(h)     Rinitis, yaitu radang selaput lendir pada rongga hidung yang terjadi sebagai akibat alergi terhadap suatu zat atau perubahan suhu.

(i) Silikois, yaitu kelainan paru-paru karena menghirup SiO2, misalnya di pertambangan.

        Kelainandan penyakit pada sistem pernapasan bukan karena infeksi dapat dicegah dengan polahidup sehat, misl menghindari kebiasaan merokok dan menjauhi udara tercemar. Jika suda terlanjur terserang, harus berobat.

3. Bahaya Rokok Bagi Kesehatan

    Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kima yang berbahaya bagi kesehatan.

Satu batang rokok mengandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia, 400 diantaranya beracun, dan kira-kira 40 diantaranya dapat menyebabkan kanker. Gb. 2. Zat kimia mempengaruhi tubuh


    Semua bahan kimia yang terdapat dalam rokok digolongkan mejadi dua kelompok, yaitu kelompok gas (nikotin) dan kelompok padat (tar). Tar merupakan kumpulan dari ribuan bahan kimia yang dapat menyebabkan kanker pada saluran pernapasan dan paru-paru, sedang nikotin merupakan bahan yang dapat membuat orang ketagihan (bahan aditif ) dan menyebaknan kulit kering, kasar, pucat, dan timbul garis-garis ketuaan (penuaan dini).         Seorang perokok disebut juga perokok aktif sedangkan orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok yang dikeluarkan orang yang merokok disebut perokok aktif.

    Bagi wanita hamil perokok, bayi yang dilahirkan akan mengalami gangguan pertumbuhan, kelainan jantung dan saraf. Zat kimia yang berasal dari rokok masuk melalui darah lewat plasenta.

    Merokok juga dapat menyebabkan;

  1. Gangguan pada rongga mulut sehingga napas berbau (holitosis)
  2. Napas pendek dan dada sesak
  3. Sakit tenggorokan
  4. Merusak gigi, gusi dan bibir menjadi hitam
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.